TEKNIK SIPIL ITS

TEKNIK SIPIL ITS

Minggu, 10 Oktober 2010


WAHYU Candra Prasetya bersama dua rekannya memasukkan bahan-bahan bangunan ke dalam molen. Selain semen dan pasir, ditambahkan limbah sisa industri dalam takaran tertentu. Komposisinya 70 berbanding 30. Lima belas menit kemudian adonan beton dengan mutu tinggi pun siap digunakan. "Cocok untuk bangunan tinggi semacam Jembatan Suramadu," kata Wahyu sepekan lalu.

Wahyu tidak sedang membuat rumah, bangunan pencakar langit, atau Jembatan Suramadu, yang membentang sejauh 5,4 kilometer. Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini berikhtiar menciptakan beton berkekuatan tinggi. "Kuat, murah, dan ramah lingkungan," kata Ir Tavio, Kepala Laboratorium Beton dan Bahan ITS.

Wahyu adalah anggota salah satu tim dari lima tim Teknik Sipil ITS dalam final lomba Indocement Award 2010 pada 5 Agustus lalu. Keunggulan beton karya anak bangsa ini mampu memangkas biaya pembuatan konstruksi bangunan Rp 125 ribu per meter kubik dibanding beton kualitas serupa di pasaran.

Pembuatan beton kualitas tinggi dengan memanfaatkan limbah industri belum banyak diterapkan di Indonesia. Padahal jumlah limbah industri seperti fly ash, copper slag, abu sekam, atau abu ampas tebu, yang tidak memiliki nilai ekonomis, berlimpah. Misalnya fly ash atau abu sisa pembakaran batu bara pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Profesor Triwulan, guru besar ilmu mekanika bahan ITS sekaligus pelopor pemanfaatan limbah industri dalam campuran bahan bangunan, mencatat setiap tahun dua PLTU-yaitu di Suralaya, Banten; dan Paiton, Probolinggo -mampu menghasilkan 2 juta ton fly ash dan 30 ribu slag tembaga. Jika dimanfaatkan, kata Triwulan, "Itu akan membantu meningkatkan kebersihan lingkungan."

Penelitian Triwulan menyebutkan fly ash bisa digunakan untuk memperkuat tekan beton dengan proporsi campuran kurang-lebih 10 persen dari berat semen. Adapun untuk meningkatkan durabilitas, dipakai proporsi campuran fly ash 30 persen dari berat semen. Tingkat kehalusan fly ash akan berpengaruh terhadap kualitas beton. Semakin halus fly ash, kian kuat juga beton yang dihasilkan.

Nah, inilah yang dilakukan 15 mahasiswa ITS, termasuk Wahyu. Satu tim terdiri atas tiga mahasiswa. Sejak awal Mei lalu, mereka bergelut dengan bahan sisa industri. Dari satu penelitian ke penelitian berikutnya, setiap mahasiswa menentukan takaran yang tepat mencampurkan fly ash ke dalam adonan. Tavio berpendapat, tim pertama (Wahyu Candra Prasetya, Rifdia Arisandi, dan Rachmat Putra) serta tim kedua (Erlina, Aditya Irwanto, dan Fani Bagus) menghasilkan kekuatan beton yang mantap. "Kekuatan mencapai 80 MPa (megapaskal/satuan tekan beton)," kata Tavio.

Beton ciptaan Wahyu adalah campuran limbah baja (slag) dan limbah batu bara (fly ash) yang didatangkan dari PLTU Paiton. Limbah baja digunakan untuk mengganti campuran kerikil pada beton, sedangkan fly ash untuk mengurangi ketergantungan pada semen. Campuran limbah baja dan limbah batu bara ini sengaja digunakan untuk meminimalkan ketergantungan beton pada sumber daya yang tidak bisa diperbarui semisal bahan pembuat semen. "Komposisi ini sengaja dipilih untuk membuat beton dengan kuat tekan 80 MPa," kata Wahyu.

Tim kedua yang dipimpin Erlina membuat beton dengan komposisi 30 persen limbah tembaga dan 70 persen pasir yang dicampur dengan 15 persen fly ash dan 85 persen semen. Untuk elemen batu, tim ini tetap menggunakan batu kerikil. "Limbah tembaga pasir ini lebih lembut dan mampu mengisi rongga-rongga yang tidak dapat dimasuki pasir," kata mahasiswa angkatan 2007 ini.

Arsitek Achmad Noerzaman berpendapat, penggunaan fly ash sebagai campuran semen dinilai lebih hemat. "Bisa memangkas penggunaan semen 20-25 persen," katanya. Fly ash memiliki partikel yang halus sehingga beton bisa lebih padat dan kuat. "Lebih green," katanya. Tavio menambahkan, beton dengan kualitas tinggi hanya bisa terwujud jika proses hidrasinya ditata dengan baik. "Caranya melakukan penyemprotan air secara berkala pada beton," katanya.


http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/08/09/ILT/mbm.20100809.ILT134270.id.html


JAKARTA - Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya membuat konsep rumah joglo yang mampu meredam goncangan gempa. Inovasi ini bahkan menjadi salah satu finalis dalam Kontes Bangunan Gedung Indonesia (KGBI) 2010.

Tim ITS yang tergabung dalam Tim S51 digawangi Wahyu Candra Prasetya, Agus Hendra Pramuji dan Agin Abduh Khaer. Mereka mengembangkan rumah joglo sebagai rumah tahan gempa berdasarkan hasil riset dan studi pustaka yang menunjukkan tidak adanya kerusakan pada rumah joglo pascagempa Yogya, 2006 silam. “Ternyata dengan konstruksi dasar dari kayu mampu meredam getaran akibat gempa,” ungkap Wahyu mewakili timnya seperti dikutip dari situs ITS, Senin (9/8/2010).

Rumah joglo yang dibuat Tim S51 ITS merupakan rumah joglo dua lantai dengan ukuran 6x9 meter dengan tiga kamar. Rumah joglo tersebut seratus persen menggunakan kayu sebagai bahan konstruksinya, termasuk pada sambungannya. Hal ini sesuai dengan tema KGBI 2010 yaitu Rumah Kayu Bertingkat yang Inovatif dan Berdasarkan Kearifan Lokal. “Jika menggunakan sambungan plat besi langsung terkena diskualifikasi,” jelas Wahyu.

Tim yang beranggotakan mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2008 ini menggunakan Kayu Kamper, karena sesuai dengan beban yang digunakan dan harga yang relatif murah karena termasuk jenis kayu kelas dua. Pada KGBI 2010, seluruh tim diminta membawa model bangunan dengan ukuran 1x1,5 meter.

KGBI merupakan perlombaan inovasi dalam teknologi rancang bangun bangunan yang diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi se-Indonesia. Pada penyelenggaraannya yang kedua tahun ini, hanya sembilan tim yang lolos menuju babak final. Tim S51 ITS mengaku optimis pada kompetisi hasil kerjasama Politeknik Negeri Jakarta dengan Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) ini. Final KGBI akan digelar selama dua hari pada 6 September mendatang di Politeknik Negeri Jakarta.(rhs)