Nama saya Wahyu Candra Prasetya,
lahir di Pati tanggal 20 Agustus 1990. Ibu saya bernama Sri Daningsih bekerja
sebagai guru SD, dan bapak bernama Parno bekerja sebagai petani. Saya memiliki
satu saudara bernama Agus Sulistya bekerja sebagai engineer di salah
satu BUMN Karya.
Masih
teringat ketika Guru SD menyuruh menulis cita-cita di selembar kertas. Kertas
itu dikumpulkan, dan setiap murid disuruh membaca satu persatu. Teman saya
banyak yang bercita-cita sebagai dokter, polisi, tentara, pilot, bahkan
presiden. Giliran saya maju kedepan membacakan yang telah saya tulis. Cita-cita
saya ingin menjadi insinyur. Dalam satu kelas hanya saya yang bercita-cita
sebagai insinyur. Guru dan teman-teman bertanya, kenapa memilih
insinyur. Saya menjawab ingin membangun stadiun sepakbola yang
mampu menampung banyak orang. Kenapa stadiun sepak bola, karena saya hobi sepak
bola. Inilah dampak positif adanya televisi. Saat melihat tayangan sepak bola,
saya tidak hanya mengamati permainannya. Saya mengamati desain stadiun,
kapasitas stadiun, bentuk atapnya. Keesokan harinya, saya mencoba menggambar
denah stadiun tersebut di atas selembar kertas.
Selain
menggambar, saya memiliki kebiasaan yang unik diantaranya
mengumpulkan bungkus rokok. Setelah pulang sekolah, saya mencari bungkus rokok
di tong sampah. Mungkin orang mengira sebagai pemulung. Bungkus rokok itu saya
susun menjadi sebuah gedung bertingkat dengan mobil-mobilan parkir di
halamannya. Tidak berhenti disitu, saya juga senang bermain pasir. Saya buat
kelokan-kelokan sungai, diatasnya saya bangun jembatan. Dengan menggunakan
kaleng susu bekas, saya gilas pasir tersebut, sehingga menjadi jalan.
Melihat
kebiasaan tersebut, kakak yang masih kuliah di jurusan Teknik Sipil ITS
angkatan 1998 sangat mendukung. Setiap pulang, saya dibelikan majalah yang
berhubungan dengan bangunan, kali ini bukan bangunan stadiun. Akan tetapi,
majalah yang berisikan deain rumah. Saya sangat senang, desain yang ada di buku
itu saya gambar ulang di kertas HVS kosong dengan bermodal penggaris, pensil,
dan penghapus. Tampak depan, denah tergambar. Selain melihat di majalah, saya
juga menonton di televisi acara yang berhubungan dengan rumah. Ditayangkan
setiap hari sabtu jam 10.00 di salah satu stasiun televisi swasta. Keinginan
saya untuk menjadi insiyur semakin kuat. Saya ingin meneruskan
jejak kakak, kuliah di Jurusan Teknik Sipil ITS.
Hobi
saya menggambar
berlanjut sampai SMA. Saat kelas tiga SMA, setiap murid mendapat tugas untuk
menggambar rumah sederhana, meliputi denah, tampak depan, samping, dan atas. Saya
kebanjiran order, teman-teman minta untuk dibuatkan gambar. Setelah
tugas menggambar selesai, dilanjutkan dengan tugas membuat maket. Desainnya
boleh dari tugas sebelumnya, atau membuat desain lain. Untuk tugas membuat
maket ini dikerjakan secara berkelompok , satu kelumpok terdiri dari enam
murid. Kelompok saya membuat desain lain. Kami mendesain maket rumah
tradisional. Di tengah terdapat pendopo untuk tempat berkumpul yang
beratapkan joglo, dikelilingi oleh gazebo untuk tempat istirahat. Pembuatan maket
berukuran 60 x 80 cm2 telah selesai dan siap untuk dipamerkan.
Keasyikan
menggambar, saya menjadi bingung. Ingin masuk Arsitektur atau Teknik Sipil.
Setelah mendapat nasihat dari Guru BP, kakak, dan orang yang berpengalaman,
akhirnya saya memilih Teknik Sipil. Keinginan saya untuk kuliah di Teknik
Sipil sudah bulat. Guru BP, menyarankan untuk mencoba PMDK, karena
nilai rapor bagus dan selalu masuk lima besar di kelas. Bahkan di kelas tiga
mendapatkan peringkat pertama. Setelah pengumuman, nama saya tidak tercantum.
Yang diterima ketiganya jurusan kedokteran. Jalan terakhir yang saya tempuh
yaitu lewah jalur SNMPTN. SNMPTN dibagi menjadi tiga regional, yaitu : barat,
tengah, dan timur. Saya mengikuti jejak kakak untuk ambil di regional timur.
Menurut isu yang berkembang, peluang masuk ITS lebih besar.
Sebelum
pelaksanaan SNMPTN, saya mengikuti bimbingan belajar khusus SNMPTN. Berbagai
buku SNMPTN tahun sebelumnya saya pelajari berulang kali. Saya harus lolos
SNMPTN dan diterima di Teknik Sipil ITS. Usaha dan doa terus saya
lakukan, karena tidak ingin apa yang telah saya cita-citakan sejak SD
gagal. Pendaftaran SNMPTN telah dibuka, Teknik Sipil ITS sebagai pilihan
pertama dan Teknik Sipil UNS sebagai pilihan kedua. Satu minggu sebelum
pelaksanaan SNMPTN, saya berangkat ke Kota Pahlawan. Saat menginjakkan kaki di
terminal terbesar di Indonesia, saya seperti orang hilang. Dengan
panduan kakak lewat telpon, saya sampai di kampus Perjuangan. Hari H telah
tiba, inilah penentu nasib saya. Saya sudah mengerjakan dengan maksimal.
Setelah saya koreksi, ternyata saya hanya bisa mengerjakan 30%. Padahal, untuk
teknik Sipil ITS harus diatas 40%. Saya menjadi pesimis, bahkan sempat
berprasangka kalau Teknik Sipil bukan jalanku. H-1 pengumuman, saya
iseng membuka website SNMPTN lewat HP. Saya masukkan nomor pendaftaran. Dan
mukzizat dari Yang Maha Kuasa datang, di layar muncul tulisan “Selamat
anda diterima di Teknik Sipil ITS”. Sujud syukur atas rahmat Yang
Maha Kuasa. “The Power of Dream”, bermimpi, berusaha, berdoa dan optimis.
Cita-cita
saya telah dikabulkan, menjadi mahasiswa Teknik Sipil ITS. Masa orientasi
telah saya lalui, kami mendapat tugas untuk membuat maket. Dengan
pengalaman yang saya miliki, saya bersedia menjadi penanggungjawab.
Bersama teman-teman satu angkatan, kami bekerjasama dan saling bagi tugas.
Pengerjaan kami lakukan pada malam hari, selama satu bulan. Maket bundaran Waru
dan City of Tomorrow sebagai gerbang masuk kota Pahlawan selesai dikerjakan.
Dari sinilah saya bisa mengenal teman-teman yang berbeda latar
belakang, saya mendapat julukan “Mandor”. Untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungan baru tidak memerlukan waktu lama.
Di
semester satu, ada mata kuliah menggambar bangunan Sipil. Gambar site plan;
denah; tampak; potongan; detail atap, sanitasi, dan listrik ; dan volume.
Karena hobi dan pengalaman selama SMA, tugas ini menjadi mudah. Tugas
saya selesaikan lebih awal, dan membantu teman-teman yang belum
selesai. Menjelang pengumpulan, kami koordinasikan. Teman-teman
yang gambarnya belum selesai untuk segera menghubungi dan kami selesaikan bersama-sama.
Tujuan utama saya mulai dari SD –
SMA yaitu bagaimana selalu mendapatkan peringkat pertama. Dan target itu dapat
tercapai. Akan tetapi, setelah masuk jenjang perguruan tinggi ini, tujuan saya
berubah. Nilai / kemampuan dalam bidang akademik (hard skill) tidak
cukup untuk bekal di masa datang. Saya harus mengasah soft skill.
Kerjasama, jejaring, kepemimpinan dan manajenen tidak kalah penting jika
dibandingkan dengan bidang akademis. Selama kuliah ini saya harus lain dari
yang lain. Mahasiswa dengan IP 4 sudah banyak, namun itu bukan tujuan saya.
Target saya yaitu IPK > 3,2 ; mandiri; memperbanyak jejaring; dan mengharumkan
Almamater. Kesibukan
saya selain kuliah antara lain :
- Tergabung dalam Forkom LKMM TD HMS 2009 menyelenggarakan Pekan Dhuafa yaitu kegiatan tentang pelatihan terhadap anak yatim se-Surabaya selama 2 bulan kemudian produknya dipamerkan disaat acara puncak.
- Menjadi staf departemen Khusus HMS FTSP ITS 2009-2010, kepala departemen Khusus HMS FTSP ITS 2010-2011 sekaligus menjadi ketua pelaksana Civil Expo 2011 yang merupakan acara terbesar mahasiswa teknik sipil se-Indonesia.
- Menjadi surveyor traffic counting baik dalam lingkup kota sampai nasional mulai tahun 2008-2011.
- Menjadi koordinator Holcim Intro 2011, survey ATTN Kemenhub RI 2011 daerah Tuban.
- Mengikuti berbagai perlombaan sekaligus sebagai ketua tim. Biak lomba karya tulis, desain bangunan dan jembatan, serta lomba beton tingkat nasional.
- Mengikuti seminar dan pelatihan baik sebagai peserta maupun pembicara di tingkat nasional.
- Membantu dosen dalam penyusunan HSPK Surabaya dan peninjauan ulang beberapa gedung pemerintahan di Malang.
- Penelitian Tugas Akhir tentang pemanfaatan lumpur Sidoarjo untuk beton ringan.
Selama 3,5 tahun kuliah di ITS,
ketiga target saya sudah tercapai. Saat ini IPK 3,2. Sejak semester dua, saya telah meringankan
beban orang tua karena mendapatkan beasiswa bebas biaya SPP. Mulai tahun
ketiga, sudah bisa membayar uang kos sendiri tanpa meminta orang tua. Memperoleh
jejaring dengan mahasiswa Sipil seluruh Indonesia, alumni, dan beberapa
instansi/ perusahaan seperti pemprov Jatim (Dishub, Bina Marga, Cipta Karya)
Semen Gresik, Holcim, Indocement, PP, Adhi Karya, Jakon, dan Jasa Marga.
Mengharumkan Almamater ITS dengan menjuarai beberapa perlombaan beton dan karya
tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi maupun perusahaan.
Lomba desain jembatan dan bangunan gedunga tahan gempa yang diselenggarakan
oleh Kementerian pendidikan dan kebudayaan RI mulai tahun 2010-2011.
Berikut ini beberapa pencapaian yang
sangat berkesan selama kuliah, yaitu :
Menjuarai Beberapa Perlombaan Tingkat Nasional
Dalam setiap perlombaan saya
selalu menjadi ketua tim. Satu tim biasanya terdiri dari 3 orang. Saya memiliki
tim di masing-masing bidang perlombaan. Dalam pembentukan tim, saya tidak
mengajak teman-teman yang IPnya 4 semua. Seperti perumpamaan, nasi gandul
mak nyuss, soto kemiri menendang, namun jika keduanya dicampur maka rasanya
tidak karuan. Untuk tim karya tulis,
saya mengajak 1 orang yang pandai menulis, 1 orang yang pandai presentasi di
muka umum. Saya menceritakan ide-ide gila kepada mereka kemudian meereka yang
nulis. Begitu juga dengan tim di bidang perlombaan yang lain.
Yang paling berkesan saat
Indocement Awards 2010. Mahasiswa ITS dikenal dengan low profil. Saya
ingin mengubah image itu. Ketika kami menyabet juara 1,4,dan 6. Setelah
sampai di kampus, saya menghubungi humas ITS, menyampaikan agar prestasi ini
bisa dipublish di seluruh Indonesia. Kami atur jadwal untuk konfrensi
pers. Puluhan wartawan baik media cetak dan elektronik meliput. Keesokan
harinya menjadi headline di beberapa media cetak. Profil saya pernah
dimuat di majalah Tempo halaman 89, edisi 9-15 Agustus 2010. Selain itu juga
pernah masuk Si Unyil edisi Teknologi tentang beton ramah lingkungan.
Sejak itu, semangat teman-teman
untuk berprestasi semakin tinggi. Di setiap perlombaan, kita menurunkan banyak
tim dan selalu menyabet juara. Dan media selalu meliput keberhasilan yang telah
kami capai.
Pada bulan November 2011, kami
menjuarai KJI dan KBGI 2011. Kami memberangakatkan 30 orang yang terdiri dari 6
tim utama dan 24 crew. Crew terdiri dari angkatan 2009 dan 2010. Tujuannya
adalah untuk regenerasi.
Untuk melanjutkan tren positif ini
saya dan teman-teman menggagas pendirian sebuah klub SIPIL ITS TRADISI JUARA.
Saat ini sudah terbentuk dan terus kami bimbing. Hasilnya pada bulan Januari
ini dapat memperoleh Juara 1 dan 3 lomba Gambar Teknik di Polinema.
Menjadi Ketua Civil Expo 2011
Civil Expo merupakan acara
terbesar mahasiswa teknik sipil se-Indonesia mengusung tema inovatif, solutif,
dan spektakuler. Terdiri dari 7 kegiatan mulai dari pelatihan tender dan
beberapa perlombaan dengan hadiah total 150 juta. Disinilah loyalitas
dan totalitas mahasiswa
teruji. Karena kami bekerja tanpa imbalan. Dengan persamaan visi, kerja keras
dan kerja sama seluruh elemen di jurusan teknik sipil ITS, acara ini dapat
terselenggara mulai bulan maret – april 2011. Modal awal 5 juta, dengan bantuan
sponsor terkumpul dana kurang lebih 300 juta. Saat ini beberapa perguruan
tinggi meniru Civil Expo dengan branding yang berbeda. Seperti rekan-rekan dari
Polinema, UNS, PNJ.
Menyelesaikan masa studi S1 selama 7 semester
Ditengah kesibukan, saya tidak
melupakan bidang akademik. Kuncinya adalah manajemen waktu. Saya selalu membuat agenda
harian dan mingguan agar hidup ini teratur dan tidak ada waktu terbuang
sia-sia. Menyeimbangkan antara akademik, non akademik, istirahat, olahraga, dan
keluarga. Di tengah kesibukan apapun, saya harus meluangkan waktu untuk
mengunjungi ibu bapak setiap bulan.
Saya ingin mematahkan anggapan
yang selama ini beredar yaitu mahasiswa yang aktif akan menjadi mahasiswa
abadi. Saya harus selangkah lebih maju. Bangun disaat semua masih
terlelap, bangkit disaat semua baru bangun, berlari di saat semua baru bangun,
dan terbang di saat semua baru berlari.
Surabaya,
28 Januari 2012
Wahyu
Candra Parsetya





