TEKNIK SIPIL ITS

TEKNIK SIPIL ITS

Minggu, 10 Oktober 2010


WAHYU Candra Prasetya bersama dua rekannya memasukkan bahan-bahan bangunan ke dalam molen. Selain semen dan pasir, ditambahkan limbah sisa industri dalam takaran tertentu. Komposisinya 70 berbanding 30. Lima belas menit kemudian adonan beton dengan mutu tinggi pun siap digunakan. "Cocok untuk bangunan tinggi semacam Jembatan Suramadu," kata Wahyu sepekan lalu.

Wahyu tidak sedang membuat rumah, bangunan pencakar langit, atau Jembatan Suramadu, yang membentang sejauh 5,4 kilometer. Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini berikhtiar menciptakan beton berkekuatan tinggi. "Kuat, murah, dan ramah lingkungan," kata Ir Tavio, Kepala Laboratorium Beton dan Bahan ITS.

Wahyu adalah anggota salah satu tim dari lima tim Teknik Sipil ITS dalam final lomba Indocement Award 2010 pada 5 Agustus lalu. Keunggulan beton karya anak bangsa ini mampu memangkas biaya pembuatan konstruksi bangunan Rp 125 ribu per meter kubik dibanding beton kualitas serupa di pasaran.

Pembuatan beton kualitas tinggi dengan memanfaatkan limbah industri belum banyak diterapkan di Indonesia. Padahal jumlah limbah industri seperti fly ash, copper slag, abu sekam, atau abu ampas tebu, yang tidak memiliki nilai ekonomis, berlimpah. Misalnya fly ash atau abu sisa pembakaran batu bara pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Profesor Triwulan, guru besar ilmu mekanika bahan ITS sekaligus pelopor pemanfaatan limbah industri dalam campuran bahan bangunan, mencatat setiap tahun dua PLTU-yaitu di Suralaya, Banten; dan Paiton, Probolinggo -mampu menghasilkan 2 juta ton fly ash dan 30 ribu slag tembaga. Jika dimanfaatkan, kata Triwulan, "Itu akan membantu meningkatkan kebersihan lingkungan."

Penelitian Triwulan menyebutkan fly ash bisa digunakan untuk memperkuat tekan beton dengan proporsi campuran kurang-lebih 10 persen dari berat semen. Adapun untuk meningkatkan durabilitas, dipakai proporsi campuran fly ash 30 persen dari berat semen. Tingkat kehalusan fly ash akan berpengaruh terhadap kualitas beton. Semakin halus fly ash, kian kuat juga beton yang dihasilkan.

Nah, inilah yang dilakukan 15 mahasiswa ITS, termasuk Wahyu. Satu tim terdiri atas tiga mahasiswa. Sejak awal Mei lalu, mereka bergelut dengan bahan sisa industri. Dari satu penelitian ke penelitian berikutnya, setiap mahasiswa menentukan takaran yang tepat mencampurkan fly ash ke dalam adonan. Tavio berpendapat, tim pertama (Wahyu Candra Prasetya, Rifdia Arisandi, dan Rachmat Putra) serta tim kedua (Erlina, Aditya Irwanto, dan Fani Bagus) menghasilkan kekuatan beton yang mantap. "Kekuatan mencapai 80 MPa (megapaskal/satuan tekan beton)," kata Tavio.

Beton ciptaan Wahyu adalah campuran limbah baja (slag) dan limbah batu bara (fly ash) yang didatangkan dari PLTU Paiton. Limbah baja digunakan untuk mengganti campuran kerikil pada beton, sedangkan fly ash untuk mengurangi ketergantungan pada semen. Campuran limbah baja dan limbah batu bara ini sengaja digunakan untuk meminimalkan ketergantungan beton pada sumber daya yang tidak bisa diperbarui semisal bahan pembuat semen. "Komposisi ini sengaja dipilih untuk membuat beton dengan kuat tekan 80 MPa," kata Wahyu.

Tim kedua yang dipimpin Erlina membuat beton dengan komposisi 30 persen limbah tembaga dan 70 persen pasir yang dicampur dengan 15 persen fly ash dan 85 persen semen. Untuk elemen batu, tim ini tetap menggunakan batu kerikil. "Limbah tembaga pasir ini lebih lembut dan mampu mengisi rongga-rongga yang tidak dapat dimasuki pasir," kata mahasiswa angkatan 2007 ini.

Arsitek Achmad Noerzaman berpendapat, penggunaan fly ash sebagai campuran semen dinilai lebih hemat. "Bisa memangkas penggunaan semen 20-25 persen," katanya. Fly ash memiliki partikel yang halus sehingga beton bisa lebih padat dan kuat. "Lebih green," katanya. Tavio menambahkan, beton dengan kualitas tinggi hanya bisa terwujud jika proses hidrasinya ditata dengan baik. "Caranya melakukan penyemprotan air secara berkala pada beton," katanya.


http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/08/09/ILT/mbm.20100809.ILT134270.id.html


JAKARTA - Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya membuat konsep rumah joglo yang mampu meredam goncangan gempa. Inovasi ini bahkan menjadi salah satu finalis dalam Kontes Bangunan Gedung Indonesia (KGBI) 2010.

Tim ITS yang tergabung dalam Tim S51 digawangi Wahyu Candra Prasetya, Agus Hendra Pramuji dan Agin Abduh Khaer. Mereka mengembangkan rumah joglo sebagai rumah tahan gempa berdasarkan hasil riset dan studi pustaka yang menunjukkan tidak adanya kerusakan pada rumah joglo pascagempa Yogya, 2006 silam. “Ternyata dengan konstruksi dasar dari kayu mampu meredam getaran akibat gempa,” ungkap Wahyu mewakili timnya seperti dikutip dari situs ITS, Senin (9/8/2010).

Rumah joglo yang dibuat Tim S51 ITS merupakan rumah joglo dua lantai dengan ukuran 6x9 meter dengan tiga kamar. Rumah joglo tersebut seratus persen menggunakan kayu sebagai bahan konstruksinya, termasuk pada sambungannya. Hal ini sesuai dengan tema KGBI 2010 yaitu Rumah Kayu Bertingkat yang Inovatif dan Berdasarkan Kearifan Lokal. “Jika menggunakan sambungan plat besi langsung terkena diskualifikasi,” jelas Wahyu.

Tim yang beranggotakan mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2008 ini menggunakan Kayu Kamper, karena sesuai dengan beban yang digunakan dan harga yang relatif murah karena termasuk jenis kayu kelas dua. Pada KGBI 2010, seluruh tim diminta membawa model bangunan dengan ukuran 1x1,5 meter.

KGBI merupakan perlombaan inovasi dalam teknologi rancang bangun bangunan yang diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi se-Indonesia. Pada penyelenggaraannya yang kedua tahun ini, hanya sembilan tim yang lolos menuju babak final. Tim S51 ITS mengaku optimis pada kompetisi hasil kerjasama Politeknik Negeri Jakarta dengan Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) ini. Final KGBI akan digelar selama dua hari pada 6 September mendatang di Politeknik Negeri Jakarta.(rhs)

Jumat, 02 April 2010

Kompetisi Jembatan Indonesia ke-Enam

Sebagai infrastruktur dari jaringan jalan, jembatan merupakan bagian dari alat peningkatan aktifitas perekonomian baik dalam skala daerah maupun nasional. Pembangunan jembatan sangat membutuhkan pertimbangan ekonomis, teknis termasuk metode konstruksinya. Di sisi lain kebutuhan untuk membangun infrastruktur jembatan selalu meningkat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan dan perkembangan tingkat perekonomian bangsa. Variasi infrastruktur jembatan sangat luas, baik ditinjau dari fungsi maupun skala atau dimensinya. Dengan kompleksitas tersebut seorang profesional di bidang pembangunan jembatan harus mampu mengetahui dan memahami secara komprehensif proses dan komponennya agar jembatan yang dirancang dan kemudian dibangun dapat berfungsi optimal serta dapat relatif mudah dikerjakan.

Pada tahun 2010 ini, akan diselenggarakan kembali ajang Kompetisi Jembatan Indonesia ke enam (KJI ke-6). Kompetisi ini merupakan rangkaian kegiatan tahunan dari kompetisi serupa dengan nama "Kompetisi Jembatan Baja Indonesia (KJBI)" pada tahun 2005. Pada tahun-tahun berikutnya kegiatan ini dilanjutkan dan berubah nama menjadi "Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI)". Kegiatan KJBI 2005 (pertama) dan KJI tahun selanjutnya telah diselenggarakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M - Ditjen Dikti) bekerjasasama dengan Politeknik Negeri Jakarta. Kegiatan KJBI (2005) dan KJI 2006-2007-2008 tersebut telah diselenggarakan dengan mengikutsertakan 12 (dua belas) tim terseleksi dan mengambil tempat di Balairung Universitas Indonesia, Kampus Universitas Indonesia Depok. KJI ke-5 tahun 2009 dikembangkan dengan melombakan Kategori Jembatan Bentang Panjang dengan menyertakan total 24 (dua puluh empat) tim terseleksi dan pelaksanaan di Kampus Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Depok.

Kompetisi Jembatan Indonesia ke enam (KJI ke-6) tahun 2010 akan diselenggarakan di Jakarta pada bulan Agustus 2010. Pada KJI ke-6 direncanakan akan mengikutkan sejumlah 24 (dua puluh empat) tim yang mewakili 8 jembatan baja, 8 jembatan kayu, dan 8 model jembatan bentang panjang pejalan kaki. Ketentuan lomba didasarkan atas evaluasi terhadap proposal teknis dan pelaksanaan pembangunan model jembatan di lapangan. Kompetisi dalam membangun prototype didasarkan atas hasil rancangan yang ditulis pada proposal teknis. Peserta adalah tim yang secara resmi ditugaskan oleh perguruan tinggi di Indonesia. Kompetisi terbuka bagi semua perguruan tinggi di Indonesia, baik disiplin ilmu teknik sipil maupun disiplin ilmu lainnya yang terkait dengan pembuatan jembatan.

Pada KJI ke-6, konstruksi jembatan dibuat dengan 2 (dua) jenis kategori bahan, yang pertama jembatan berbahan baja dan kedua adalah jembatan berbahan kayu, dengan bentuk struktur jembatan rangka, dan untuk model jembatan bentang panjang pejalan kaki menggunakan model jembatan kabel dengan material bebas. Fungsi jembatan baja adalah untuk lalu-lintas umum dan dibuat dua lajur, sedangkan jembatan kayu dan jembatan bentang panjang berfungsi sebagai jembatan pejalan kaki. Pada ajang KJI ke-6, konstruksi jembatan dibangun dari bahan yang ramah lingkungan tetapi secara teknis mampu menahan beban lalu-lintas.

info selanjutnya:

http://www.pnj.ac.id/kji/index.php?bab=kji6

Kontes Bangunan Gedung Indonesia Kedua (KBGI Ke-2)


Wilayah Indonesia merupakan kawasan yang mempunyai tingkat risiko kegempaan yang tinggi di antara beberapa kawasan gempa di seluruh dunia. Data terakhir yang berhasil dicatat menunjukkan bahwa rata-rata setiap tahun terjadi sepuluh gempa bumi di Indonesia yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Sebagian gempa terjadi pada daerah lepas pantai dan sebagian lagi pada daerah daratan. Kerugian akibat gempa antara lain bisa berupa kerusakan/hancurnya infrastruktur bangunan maupun jatuhnya korban manusia.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip keteknikan yang benar, detail konstruksi yang baik dan praktis maka kerugian harta benda dan jiwa manusia diharapkan akan dapat dikurangi ketika gempa terjadi. Beban gempa yang terjadi pada suatu bangunan juga tergantung pada keadaan (features) dari bangunan tersebut, yakni fleksibilitasnya, berat konstruksinya dan kualitas material konstruksi yang digunakannya. Bangunan yang fIeksibel akan menerima beban gempa yang lebih kecil dibandingkan bangunan yang lebih kaku. Bangunan yang lebih ringan akan menerima beban gempa yang lebih kecil daripada bangunan yang berat; dan bangunan yang kenyal (daktail) akan menyerap beban (energi) gempa yang lebih kecil dari pada bangunan yang getas. Bangunan getas di bawah beban gempa kemungkinan akan tetap elastis atau sebaliknya akan runtuh secara mendadak. Bangunan dari kayu dapat digolongkan sebagai bangunan yang kenyal.

Pada tahun 2009 telah diselenggarakan ajang Kontes Bangunan Gedung Indonesia Ke-1 (KBGI Ke-1). Kegiatan KBGI Ke-1 ini diselenggarakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M – Ditjen Dikti) bekerjasama dengan Politeknik Negeri Jakarta. Kegiatan ini telah diselenggarakan dengan mengikutsertakan 9 (sembilan) tim terseleksi dan mengambil tempat di Politeknik Negeri Jakarta.

Pada tahun 2010 ini akan diselenggarakan kembali kegiatan serupa, yaitu KBGI Ke-2 di Politeknik Negeri Jakarta, Depok, Indonesia pada tanggal 5 s/d. 7 Nopember 2010. Penilaian lomba didasarkan atas hasil evaluasi terhadap Proposal Teknis dan Pelaksanaan Konstruksi serta Pengujian Model Bangunan di site plan (lokasi kontes). Kontes ini terbuka bagi peserta dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia, baik yang berasal dari disiplin ilmu teknik sipil maupun disiplin ilmu lainnya yang terkait dengan pembuatan bangunan.

Pada ajang KBGI Ke-2 ini, penilaian konstruksi bangunan ditinjau dari material konstruksi yang digunakan, yaitu yang bersifat ramah lingkungan namun secara teknis material konstruksi tersebut mampu menahan beban gempa dan faktor pengaruh alam lainnya.


INFO LENGKAP:

http://www.pnj.ac.id/kji/index.php?bab=kbgi2

Senin, 22 Februari 2010

SILUMAN JALANAN PENGHISAP UANG RAKYAT


Akhir2 ini semua perhatian tertuju pada hasil keputusan pansus angket century,yg diperkirakan merugikan negara hingga 6,7 T....

Di tempat lain KPK sedang memburu koruptor2 yg telah menggondol uang negara,uang rakyat Indonesia.tak tanggung-tanggung,mantan menteri pun ikut terseret...

Setiap hari para aktivis tak bisa melepas megafonnya,aksi ke tempat satu ke tempat yg lain.menggembar-gemborkan pemberantasan korupsi...
OK,saya menghargai aksi rekan-rekan aktivis....

"siluman jalanan
bergentayangan menghisap uang rakyat"

mungkin yg baca catatan ini bertanya-tanya,"d jaman modern ini masih ada siluman?"

Liburan kemarin saya melintasi jalan raya kudus-demak.jalan ini baru saja diaspal,bahkan alat2 berat masih diparkir di kiri jalan..saya heran,kenapa sudah bermunculan lubang di sepanjang jalan tersebut...
Saya pun bertanya tanya..hal seperti ini terjadi karena salah dalam perencanaan atau pelaksanaanya..

Alhamdulillah semester 4 ini saya mengambil mata kuliah rekayasa perkerasan jalan.pertanyaan di atas mulai terjawab.selain dari faktor internal (perencanaan,pelaksanaan),ada faktor eksternal yg pengaruhnya sangat besar terhadap kerusakan tersebut...

Sadarkah anda?..lubang-lubang tersebut disebabkan oleh truk-truk yg over load ( kelebihan beban )....
Muncul pertanyaan lagi,"apa fungsi jembatan timbang?"
ya,dibeberapa daerah masih terdapat jembatan timbang.seharusnya petugas tidak mengijinkan truk yg over load untuk melanjutkan perjalanan.namun kenyataannya,apa yang terjadi??truk-truk yg memuat barang melebihi batas masih beroperasi setiap hari...apa sebenarnya yg terjadi di jembatan timbang??apakah dengan sebungkus rokok,mereka mau meloloskan truk-truk yg kelebiah beban???

Perlu diketahui,perbaik jalan membutuhkan biaya miliaran..uang itu berasal dari APBN,APBD (uang negara=uang rakyat).perbaikan jalan yg seharusnya dilakukan 3-5 tahun sekali,sekarang tiap tahun dilakukan perbaikan...
misal:
biaya perbaikan 1x dalam 3 tahun= 10 miliar
sekarang jika perbaikan dilakukan tiap tahun,dalam 3 tahun menghabiskan biaya
3 x 10 miliar = 30 miliar
uang 20 miliar itu seharusnya digunakan untuk menghidupi fakir miskin dan anak terlantar yg jelas telah dicantumkan dalam UUD 1945


Kalau seperti ini siapa yg disalahkan..
Perencana?
Pelaksana?
Pemilik truk?
Petugas jembatan timbang?
Atau
saya yg menulis catatan ini?

Bolehkah kita menindak langsung??jika petugas penegak peraturan ini sudah profesional lagi???

Inilah salah satu fakta di negara Indonesia tercinta,yg lagi-lagi merugikan rakyat

Jumat, 19 Februari 2010

14 km Tol Kanci-Pejagan telah Dibeton PPCP



PT Bakrie Toll Road menyatakan, sepanjang 14 kilometer (km) tol Kanci-Pejagan telah berhasil dibeton dengan menggunakan teknologi precast prestress concrete pavement (PPCP). Rencananya, setengah dari total panjang tol itu akan menggunakan beton hasil teknologi PPCP, setengah lainnya mengunakan beton konvensional.

Direktur Utama PT Bakrie Toll Road Harya Mitra Hidayat mengatakan, penerapan teknologi PPCP memang cenderung aman dan cepat dalam pembuatan jalan tol Kanci-Pejagan. Teknologi berupa produksi lembar beton cetak yang ditarik itu memang dikhususkan bagi jalan dengan kekuatan 10 ton, seperti halnya tol Kanci-Pejagan.

“Kontraktor kami, yakni PT Adhi Karya Tbk, berhasil mempercepat pekerjaan dengan menggunakan teknologi PPCP, sehingga saat ini beton sudah terpasang 14 km dari total panjang 34,5 km,” kata dia, di Jakarta, belum lama ini.

Harya menjelaskan, dengan raihan pembetonan sepanjang 14 km itu, berarti total panen yang terpasang sekitar 5.617 unit. Sedianya untuk setengah panjang tol Kanci-Pejagan atau sekitar 18 km dibutuhkan sedikitnya 7.220 panel yang saat ini telah seluruhnya terkirim ke lapangan.

“Dengan teknologi PPCP, produksi beton justru sudah mencapai 8.106 panel atau jika dipasangkan ke jalan bisa mencapai 20 km,” tegas dia.

Dengan penerapan teknologi PPCP itu, lanjut dia, pihaknya pun optimistis bisa mengoperasikan tol Kanci-Pejagan sebelum Lebaran 2009. saat ini, progres fisik di lapangan telah rampung 60%. Jika kondisi cuaca bagus, kegiatan fisik di lapangan bisa rampung pada Agustus atau September.

Harya juga menjelaskan, pihaknya juga akan mengusung teknologi tinggi dalam menggunakan transaksi tol, yakni teknologi Automatic Vehicle Classification (AVC). Teknologi itu merupakan bagian dari rangkaian peralatan pengumpulan pendapatan tol. Alat tersebut akan secara otomatis dapat menentukan golongan kendaraan yang melewati gardu tol, sehingga akurasi pendapatan lebih maksimal.

Menurut dia, peralatan itu berisikan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (sofware). Hardware terdiri dari 2 sensor pendeteksi kendaraan, yakni sensor atas tekanan akibat roda kendaraan yang melintas dan sensor optikal yang mendeteksi dimensi kendaraan serta komputer. Hasil deteksi ini kemudian dianalisis oleh sofware khusus dan diterjemahkan menjadi informasi golongan kendaraan. (imm)

24/06/2009 20:28:42 WIB
JAKARTA, INVESTOR DAILY

ITS Rancang Rumah Tahan Gempa Berskala 8 SR

http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=d8e7c65cb29790ab848758061282ab6a201073653 - Ir. TAVIO, M.S., Ph.D Head of Laboratory of Concrete and Building Material Fakultas Teknik Sipil ITS mengatakan kebutuhan rumah atau gedung yang cepat huni pasca gempa sangat tinggi. Apalagi Indonesia merupakan daerah ring of fire karena adanya gunung berapi yang aktif dan secara geografis berada dekat dengan lempeng-lempeng aktif dan saling berhubungan.

Gempa di Aceh, Padang dan Yogyakarta yang terjadi beberapa waktu lalu mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa yang tidak sedikit. Rumah-rumah yang dibangun luluh-lantak dan langsung rata dengan tanah. Korban tewas tertimpa bangunan dan rumah. Padahal struktur bangunan dibuat sedemikian kuat namun ternyata tidak tahan dengan goncangan gempa.

“Di Padang, banyak rumah yang collapse (runtuh), rumah atau bangunan retak dan rusak. Rumah tidak tahan dengan goncangan gempa, akibatnya korban jiwa banyak,” kata TAVIO dalam konferensi pers, Selasa (09/02).

Atas dasar itulah, Research Group ITS yang diantaranya terdiri dari TAVIO, Prof. Ir. PRIYO SUPROBO, MS., Ph.D, mahasiswa S1 sampai S3 merancang rumah tahan gempa yang berbahan beton pracetak.

ITS sendiri sebenarnya sudah pernah merancang rumah tahan gempa yang berbahan kayu dan cepat bangun dengan waktu 9 jam. Namun, kayu lebih rentan terhadap kebakaran, perubahan cuaca, rayap, lapuk, dan air. Sedangkan beton cor setempat memakan waktu lebih lama dalam proses rekonstruksinya.

“Akhirnya kita rancang rumah berbahan beton menggunakan pracetak yang cepat bangun dan murah. Rumah ini juga green building system, artinya ramah lingkungan,” ujar TAVIO.

Kelebihan pracetakn adalah kekuatan terjamin atau lebih terkontrol karena dibuat dengan fabrikasi, waktu pelaksanaannya cepat, hemat biaya terutama jika diproduksi massal, lebih awet dan tahan lama.

TAVIO menambahkan rumah beton pracetak ini memiliki daktilitas (kemampuan struktur bangunan mempertahankan kekuatan dan kekakuan yang cukup) yang baik, kelenturan struktur dan tahan terhadap kerusakan. Sambungan antar kolom pracetak yang kuat bisa menahan goncangan gempa berskala 7-8 Skala Richter atau 0,3 gravitasi. Meski rusak tapi tidak sampai runtuh.

Targetnya, rumah pracetak ini sudah bisa diluncurkan pada 2011 seiring berakhirnya Program Hibah Kompetisi Institusi (PHKI) dan Riset Strategi Nasional.(git/ipg)

ITS Rancang Rumah Pracetak Tahan Gempa

http://www.antaranews.com/berita/1265893333/its-rancang-rumah-pracetak-tahan-gempa - Itu harga rumah di wilayah gempa yang bertipe 36 dengan satu lantai, sedangkan harga untuk dua lantai Rp90 juta," kata Kepala Laboratorium "Concrete and Building Material" Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITS, Ir Tavio MS PhD, di Surabaya, Kamis.

Ia mengatakan rumah itu bisa dibuat dalam waktu 3-4 hari oleh 4-5 orang, karena ITS merancang dengan memperhatikan kuat, cepat dibangun, dan berbiaya murah.

"Untuk gempa berkekuatan 8 SR, rumah itu bisa runtuh, tapi nyawa penghuninya selamat karena tidak tertimpa atap rumah. Kalau mau tahan gempa 8 SR, maka harganya agak mahal," katanya.

Menurut dia, rumah pracetak tahan gempa itu akan diproduksi massal, sehingga harga dan waktu pembangunan bisa lebih murah dan cepat.

Pembangunan rumah beton pracetak itu diawali dengan memasang pondasi telapak, sedangkan pondasi dipasang di atas tanah yang kering, karena tanah lunak hanya akan meningkatkan risiko goncangan gempa.

"Pemasangan kolom pracetak di atas pondasi, sedangkan sambungan antarkolom akan membedakan rumah tahan gempa dan rumah biasa," katanya.

Untuk memperkuat rumah, sambungan menggunakan baja yang dicampur dengan "fly ash" (abu terbang) yang biasanya diperoleh dari limbah batubara.

Selain itu, beton yang dipakai juga beragregat ringan dengan berat beton kurang dari 1.800 kg per meter kubik.

"Tahap berikutnya adalah pembangunan atap. Untuk wilayah rawan gempa, atap rumah harus terbuat dari bahan yang ringan. ITS sudah merancang atap rumah berbahan zincalume yang merupakan campuran antara besi dan aluminium," katanya.

Dalam simulasi, katanya, sudah diuji dengan atap berbahan zincalume, ternyata sekuat besi tapi ringan karena terbuat dari aluminium.

"Yang lebih penting lagi, rumah itu tidak panas," katanya.(Ant/R009)