TEKNIK SIPIL ITS

TEKNIK SIPIL ITS

Jumat, 02 April 2010

Kompetisi Jembatan Indonesia ke-Enam

Sebagai infrastruktur dari jaringan jalan, jembatan merupakan bagian dari alat peningkatan aktifitas perekonomian baik dalam skala daerah maupun nasional. Pembangunan jembatan sangat membutuhkan pertimbangan ekonomis, teknis termasuk metode konstruksinya. Di sisi lain kebutuhan untuk membangun infrastruktur jembatan selalu meningkat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan dan perkembangan tingkat perekonomian bangsa. Variasi infrastruktur jembatan sangat luas, baik ditinjau dari fungsi maupun skala atau dimensinya. Dengan kompleksitas tersebut seorang profesional di bidang pembangunan jembatan harus mampu mengetahui dan memahami secara komprehensif proses dan komponennya agar jembatan yang dirancang dan kemudian dibangun dapat berfungsi optimal serta dapat relatif mudah dikerjakan.

Pada tahun 2010 ini, akan diselenggarakan kembali ajang Kompetisi Jembatan Indonesia ke enam (KJI ke-6). Kompetisi ini merupakan rangkaian kegiatan tahunan dari kompetisi serupa dengan nama "Kompetisi Jembatan Baja Indonesia (KJBI)" pada tahun 2005. Pada tahun-tahun berikutnya kegiatan ini dilanjutkan dan berubah nama menjadi "Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI)". Kegiatan KJBI 2005 (pertama) dan KJI tahun selanjutnya telah diselenggarakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M - Ditjen Dikti) bekerjasasama dengan Politeknik Negeri Jakarta. Kegiatan KJBI (2005) dan KJI 2006-2007-2008 tersebut telah diselenggarakan dengan mengikutsertakan 12 (dua belas) tim terseleksi dan mengambil tempat di Balairung Universitas Indonesia, Kampus Universitas Indonesia Depok. KJI ke-5 tahun 2009 dikembangkan dengan melombakan Kategori Jembatan Bentang Panjang dengan menyertakan total 24 (dua puluh empat) tim terseleksi dan pelaksanaan di Kampus Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Depok.

Kompetisi Jembatan Indonesia ke enam (KJI ke-6) tahun 2010 akan diselenggarakan di Jakarta pada bulan Agustus 2010. Pada KJI ke-6 direncanakan akan mengikutkan sejumlah 24 (dua puluh empat) tim yang mewakili 8 jembatan baja, 8 jembatan kayu, dan 8 model jembatan bentang panjang pejalan kaki. Ketentuan lomba didasarkan atas evaluasi terhadap proposal teknis dan pelaksanaan pembangunan model jembatan di lapangan. Kompetisi dalam membangun prototype didasarkan atas hasil rancangan yang ditulis pada proposal teknis. Peserta adalah tim yang secara resmi ditugaskan oleh perguruan tinggi di Indonesia. Kompetisi terbuka bagi semua perguruan tinggi di Indonesia, baik disiplin ilmu teknik sipil maupun disiplin ilmu lainnya yang terkait dengan pembuatan jembatan.

Pada KJI ke-6, konstruksi jembatan dibuat dengan 2 (dua) jenis kategori bahan, yang pertama jembatan berbahan baja dan kedua adalah jembatan berbahan kayu, dengan bentuk struktur jembatan rangka, dan untuk model jembatan bentang panjang pejalan kaki menggunakan model jembatan kabel dengan material bebas. Fungsi jembatan baja adalah untuk lalu-lintas umum dan dibuat dua lajur, sedangkan jembatan kayu dan jembatan bentang panjang berfungsi sebagai jembatan pejalan kaki. Pada ajang KJI ke-6, konstruksi jembatan dibangun dari bahan yang ramah lingkungan tetapi secara teknis mampu menahan beban lalu-lintas.

info selanjutnya:

http://www.pnj.ac.id/kji/index.php?bab=kji6

Kontes Bangunan Gedung Indonesia Kedua (KBGI Ke-2)


Wilayah Indonesia merupakan kawasan yang mempunyai tingkat risiko kegempaan yang tinggi di antara beberapa kawasan gempa di seluruh dunia. Data terakhir yang berhasil dicatat menunjukkan bahwa rata-rata setiap tahun terjadi sepuluh gempa bumi di Indonesia yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Sebagian gempa terjadi pada daerah lepas pantai dan sebagian lagi pada daerah daratan. Kerugian akibat gempa antara lain bisa berupa kerusakan/hancurnya infrastruktur bangunan maupun jatuhnya korban manusia.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip keteknikan yang benar, detail konstruksi yang baik dan praktis maka kerugian harta benda dan jiwa manusia diharapkan akan dapat dikurangi ketika gempa terjadi. Beban gempa yang terjadi pada suatu bangunan juga tergantung pada keadaan (features) dari bangunan tersebut, yakni fleksibilitasnya, berat konstruksinya dan kualitas material konstruksi yang digunakannya. Bangunan yang fIeksibel akan menerima beban gempa yang lebih kecil dibandingkan bangunan yang lebih kaku. Bangunan yang lebih ringan akan menerima beban gempa yang lebih kecil daripada bangunan yang berat; dan bangunan yang kenyal (daktail) akan menyerap beban (energi) gempa yang lebih kecil dari pada bangunan yang getas. Bangunan getas di bawah beban gempa kemungkinan akan tetap elastis atau sebaliknya akan runtuh secara mendadak. Bangunan dari kayu dapat digolongkan sebagai bangunan yang kenyal.

Pada tahun 2009 telah diselenggarakan ajang Kontes Bangunan Gedung Indonesia Ke-1 (KBGI Ke-1). Kegiatan KBGI Ke-1 ini diselenggarakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M – Ditjen Dikti) bekerjasama dengan Politeknik Negeri Jakarta. Kegiatan ini telah diselenggarakan dengan mengikutsertakan 9 (sembilan) tim terseleksi dan mengambil tempat di Politeknik Negeri Jakarta.

Pada tahun 2010 ini akan diselenggarakan kembali kegiatan serupa, yaitu KBGI Ke-2 di Politeknik Negeri Jakarta, Depok, Indonesia pada tanggal 5 s/d. 7 Nopember 2010. Penilaian lomba didasarkan atas hasil evaluasi terhadap Proposal Teknis dan Pelaksanaan Konstruksi serta Pengujian Model Bangunan di site plan (lokasi kontes). Kontes ini terbuka bagi peserta dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia, baik yang berasal dari disiplin ilmu teknik sipil maupun disiplin ilmu lainnya yang terkait dengan pembuatan bangunan.

Pada ajang KBGI Ke-2 ini, penilaian konstruksi bangunan ditinjau dari material konstruksi yang digunakan, yaitu yang bersifat ramah lingkungan namun secara teknis material konstruksi tersebut mampu menahan beban gempa dan faktor pengaruh alam lainnya.


INFO LENGKAP:

http://www.pnj.ac.id/kji/index.php?bab=kbgi2