TEKNIK SIPIL ITS

TEKNIK SIPIL ITS

Senin, 22 Februari 2010

SILUMAN JALANAN PENGHISAP UANG RAKYAT


Akhir2 ini semua perhatian tertuju pada hasil keputusan pansus angket century,yg diperkirakan merugikan negara hingga 6,7 T....

Di tempat lain KPK sedang memburu koruptor2 yg telah menggondol uang negara,uang rakyat Indonesia.tak tanggung-tanggung,mantan menteri pun ikut terseret...

Setiap hari para aktivis tak bisa melepas megafonnya,aksi ke tempat satu ke tempat yg lain.menggembar-gemborkan pemberantasan korupsi...
OK,saya menghargai aksi rekan-rekan aktivis....

"siluman jalanan
bergentayangan menghisap uang rakyat"

mungkin yg baca catatan ini bertanya-tanya,"d jaman modern ini masih ada siluman?"

Liburan kemarin saya melintasi jalan raya kudus-demak.jalan ini baru saja diaspal,bahkan alat2 berat masih diparkir di kiri jalan..saya heran,kenapa sudah bermunculan lubang di sepanjang jalan tersebut...
Saya pun bertanya tanya..hal seperti ini terjadi karena salah dalam perencanaan atau pelaksanaanya..

Alhamdulillah semester 4 ini saya mengambil mata kuliah rekayasa perkerasan jalan.pertanyaan di atas mulai terjawab.selain dari faktor internal (perencanaan,pelaksanaan),ada faktor eksternal yg pengaruhnya sangat besar terhadap kerusakan tersebut...

Sadarkah anda?..lubang-lubang tersebut disebabkan oleh truk-truk yg over load ( kelebihan beban )....
Muncul pertanyaan lagi,"apa fungsi jembatan timbang?"
ya,dibeberapa daerah masih terdapat jembatan timbang.seharusnya petugas tidak mengijinkan truk yg over load untuk melanjutkan perjalanan.namun kenyataannya,apa yang terjadi??truk-truk yg memuat barang melebihi batas masih beroperasi setiap hari...apa sebenarnya yg terjadi di jembatan timbang??apakah dengan sebungkus rokok,mereka mau meloloskan truk-truk yg kelebiah beban???

Perlu diketahui,perbaik jalan membutuhkan biaya miliaran..uang itu berasal dari APBN,APBD (uang negara=uang rakyat).perbaikan jalan yg seharusnya dilakukan 3-5 tahun sekali,sekarang tiap tahun dilakukan perbaikan...
misal:
biaya perbaikan 1x dalam 3 tahun= 10 miliar
sekarang jika perbaikan dilakukan tiap tahun,dalam 3 tahun menghabiskan biaya
3 x 10 miliar = 30 miliar
uang 20 miliar itu seharusnya digunakan untuk menghidupi fakir miskin dan anak terlantar yg jelas telah dicantumkan dalam UUD 1945


Kalau seperti ini siapa yg disalahkan..
Perencana?
Pelaksana?
Pemilik truk?
Petugas jembatan timbang?
Atau
saya yg menulis catatan ini?

Bolehkah kita menindak langsung??jika petugas penegak peraturan ini sudah profesional lagi???

Inilah salah satu fakta di negara Indonesia tercinta,yg lagi-lagi merugikan rakyat

Jumat, 19 Februari 2010

14 km Tol Kanci-Pejagan telah Dibeton PPCP



PT Bakrie Toll Road menyatakan, sepanjang 14 kilometer (km) tol Kanci-Pejagan telah berhasil dibeton dengan menggunakan teknologi precast prestress concrete pavement (PPCP). Rencananya, setengah dari total panjang tol itu akan menggunakan beton hasil teknologi PPCP, setengah lainnya mengunakan beton konvensional.

Direktur Utama PT Bakrie Toll Road Harya Mitra Hidayat mengatakan, penerapan teknologi PPCP memang cenderung aman dan cepat dalam pembuatan jalan tol Kanci-Pejagan. Teknologi berupa produksi lembar beton cetak yang ditarik itu memang dikhususkan bagi jalan dengan kekuatan 10 ton, seperti halnya tol Kanci-Pejagan.

“Kontraktor kami, yakni PT Adhi Karya Tbk, berhasil mempercepat pekerjaan dengan menggunakan teknologi PPCP, sehingga saat ini beton sudah terpasang 14 km dari total panjang 34,5 km,” kata dia, di Jakarta, belum lama ini.

Harya menjelaskan, dengan raihan pembetonan sepanjang 14 km itu, berarti total panen yang terpasang sekitar 5.617 unit. Sedianya untuk setengah panjang tol Kanci-Pejagan atau sekitar 18 km dibutuhkan sedikitnya 7.220 panel yang saat ini telah seluruhnya terkirim ke lapangan.

“Dengan teknologi PPCP, produksi beton justru sudah mencapai 8.106 panel atau jika dipasangkan ke jalan bisa mencapai 20 km,” tegas dia.

Dengan penerapan teknologi PPCP itu, lanjut dia, pihaknya pun optimistis bisa mengoperasikan tol Kanci-Pejagan sebelum Lebaran 2009. saat ini, progres fisik di lapangan telah rampung 60%. Jika kondisi cuaca bagus, kegiatan fisik di lapangan bisa rampung pada Agustus atau September.

Harya juga menjelaskan, pihaknya juga akan mengusung teknologi tinggi dalam menggunakan transaksi tol, yakni teknologi Automatic Vehicle Classification (AVC). Teknologi itu merupakan bagian dari rangkaian peralatan pengumpulan pendapatan tol. Alat tersebut akan secara otomatis dapat menentukan golongan kendaraan yang melewati gardu tol, sehingga akurasi pendapatan lebih maksimal.

Menurut dia, peralatan itu berisikan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (sofware). Hardware terdiri dari 2 sensor pendeteksi kendaraan, yakni sensor atas tekanan akibat roda kendaraan yang melintas dan sensor optikal yang mendeteksi dimensi kendaraan serta komputer. Hasil deteksi ini kemudian dianalisis oleh sofware khusus dan diterjemahkan menjadi informasi golongan kendaraan. (imm)

24/06/2009 20:28:42 WIB
JAKARTA, INVESTOR DAILY

ITS Rancang Rumah Tahan Gempa Berskala 8 SR

http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=d8e7c65cb29790ab848758061282ab6a201073653 - Ir. TAVIO, M.S., Ph.D Head of Laboratory of Concrete and Building Material Fakultas Teknik Sipil ITS mengatakan kebutuhan rumah atau gedung yang cepat huni pasca gempa sangat tinggi. Apalagi Indonesia merupakan daerah ring of fire karena adanya gunung berapi yang aktif dan secara geografis berada dekat dengan lempeng-lempeng aktif dan saling berhubungan.

Gempa di Aceh, Padang dan Yogyakarta yang terjadi beberapa waktu lalu mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa yang tidak sedikit. Rumah-rumah yang dibangun luluh-lantak dan langsung rata dengan tanah. Korban tewas tertimpa bangunan dan rumah. Padahal struktur bangunan dibuat sedemikian kuat namun ternyata tidak tahan dengan goncangan gempa.

“Di Padang, banyak rumah yang collapse (runtuh), rumah atau bangunan retak dan rusak. Rumah tidak tahan dengan goncangan gempa, akibatnya korban jiwa banyak,” kata TAVIO dalam konferensi pers, Selasa (09/02).

Atas dasar itulah, Research Group ITS yang diantaranya terdiri dari TAVIO, Prof. Ir. PRIYO SUPROBO, MS., Ph.D, mahasiswa S1 sampai S3 merancang rumah tahan gempa yang berbahan beton pracetak.

ITS sendiri sebenarnya sudah pernah merancang rumah tahan gempa yang berbahan kayu dan cepat bangun dengan waktu 9 jam. Namun, kayu lebih rentan terhadap kebakaran, perubahan cuaca, rayap, lapuk, dan air. Sedangkan beton cor setempat memakan waktu lebih lama dalam proses rekonstruksinya.

“Akhirnya kita rancang rumah berbahan beton menggunakan pracetak yang cepat bangun dan murah. Rumah ini juga green building system, artinya ramah lingkungan,” ujar TAVIO.

Kelebihan pracetakn adalah kekuatan terjamin atau lebih terkontrol karena dibuat dengan fabrikasi, waktu pelaksanaannya cepat, hemat biaya terutama jika diproduksi massal, lebih awet dan tahan lama.

TAVIO menambahkan rumah beton pracetak ini memiliki daktilitas (kemampuan struktur bangunan mempertahankan kekuatan dan kekakuan yang cukup) yang baik, kelenturan struktur dan tahan terhadap kerusakan. Sambungan antar kolom pracetak yang kuat bisa menahan goncangan gempa berskala 7-8 Skala Richter atau 0,3 gravitasi. Meski rusak tapi tidak sampai runtuh.

Targetnya, rumah pracetak ini sudah bisa diluncurkan pada 2011 seiring berakhirnya Program Hibah Kompetisi Institusi (PHKI) dan Riset Strategi Nasional.(git/ipg)

ITS Rancang Rumah Pracetak Tahan Gempa

http://www.antaranews.com/berita/1265893333/its-rancang-rumah-pracetak-tahan-gempa - Itu harga rumah di wilayah gempa yang bertipe 36 dengan satu lantai, sedangkan harga untuk dua lantai Rp90 juta," kata Kepala Laboratorium "Concrete and Building Material" Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITS, Ir Tavio MS PhD, di Surabaya, Kamis.

Ia mengatakan rumah itu bisa dibuat dalam waktu 3-4 hari oleh 4-5 orang, karena ITS merancang dengan memperhatikan kuat, cepat dibangun, dan berbiaya murah.

"Untuk gempa berkekuatan 8 SR, rumah itu bisa runtuh, tapi nyawa penghuninya selamat karena tidak tertimpa atap rumah. Kalau mau tahan gempa 8 SR, maka harganya agak mahal," katanya.

Menurut dia, rumah pracetak tahan gempa itu akan diproduksi massal, sehingga harga dan waktu pembangunan bisa lebih murah dan cepat.

Pembangunan rumah beton pracetak itu diawali dengan memasang pondasi telapak, sedangkan pondasi dipasang di atas tanah yang kering, karena tanah lunak hanya akan meningkatkan risiko goncangan gempa.

"Pemasangan kolom pracetak di atas pondasi, sedangkan sambungan antarkolom akan membedakan rumah tahan gempa dan rumah biasa," katanya.

Untuk memperkuat rumah, sambungan menggunakan baja yang dicampur dengan "fly ash" (abu terbang) yang biasanya diperoleh dari limbah batubara.

Selain itu, beton yang dipakai juga beragregat ringan dengan berat beton kurang dari 1.800 kg per meter kubik.

"Tahap berikutnya adalah pembangunan atap. Untuk wilayah rawan gempa, atap rumah harus terbuat dari bahan yang ringan. ITS sudah merancang atap rumah berbahan zincalume yang merupakan campuran antara besi dan aluminium," katanya.

Dalam simulasi, katanya, sudah diuji dengan atap berbahan zincalume, ternyata sekuat besi tapi ringan karena terbuat dari aluminium.

"Yang lebih penting lagi, rumah itu tidak panas," katanya.(Ant/R009)